Salam Kenal dari Roemah Bhinneka Moeda

 Lebih Dekat, Roemah Bhinneka Moeda

Sesi foto bersama setelah Forum Bedah Buku di Seminari Tinggi Provindentia Dei Keuskupan Surabaya. 

    Di halaman berukuran 5 x 4 meter, ditemani kopi panas yang baru saja dituangkan sang pemilik rumah. Tak terasa, lima jam sudah kami ngobrol ngalor ngidul. Di tengah-tengah obrolan, seorang laki-laki memakai sarung dengan kaos singlet bergambar leak tiba-tiba nyeletuk, “bikin Roemah Bhinneka khusus anak-anak muda yuk, nanti namanya Roemah Bhinneka Moeda,” laki-laki itu sering kami panggil Pak Ir.

    Sebelum ada celetukan itu, memang dia sering menyebut anak-anak muda yang tergabung di Roemah Bhinneka (sekarang kami sebut RB Senior) sebagai anggota Roemah Bhinneka Moeda. Entah bagaimana ceritanya tiba-tiba anggota RB Senior mengajak kami berkumpul di sekret yang letaknya di pinggiran kota pada tanggal 16 Desember 2021 malam.

    “Gimana sepakat teman-teman untuk membentuk Roemah Bhinneka Moeda malam ini,” tutur Ko Andrew. Pria berwajah Tionghoa ini memang suka mengejutkan. Kami juga sering menyebut Ko Andrew sebagai sesepuh di RB Senior (walau umurnya belum sepuh).

    Tanpa banyak debat, kami langsung menganggukkan kepala mengafirmasi ucapan Ko Andrew. Padahal beberapa hari lagi kawan-kawan sudah mempersiapkan perayaan Natal bersama.

    “Tapi deklarasi resminya nanti pas tepat perayaan Natal bersama saja, tanggal 22 Desember,” lanjutnya kegirangan. Tetapi, betul juga. Tanggal 22 Desember 2021 kami sepakati bersama sebagai awal mula lahirnya Roemah Bhinneka Moeda.

Perayaan Natal bersama yang sekaligus menjadi peresmian Roemah Bhinneka Moeda (22/12)

    Eits, menurut penulis dan kawan-kawan, terpilihnya tanggal 22 Desember bukan semata-mata hanya tanggal. Entah kebetulan atau tidak, tanggal itu pula juga ditetapkan sebagai Hari Ibu.

    Seperti seorang Ibu, harapan kami Roemah Bhinneka juga bisa melahirkan peradaban baru. Sebuah peradaban yang cinta toleransi, cinta sesama, dan selalu menyebarkan kebaikan tanpa memandang latar belakang.

    Bapak toleransi, Gus Dur pernah bilang, “Tidak penting apa agama dan sukumu, kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak akan tanya apa agamamu,” kami sangat mengamini itu.

    Seperti judulnya, Roemah Bhinneka Moeda menjadi sebuah komunitas yang beranggotakan anak moeda cinta toleransi. Kami tidak memandang kamu sebagai Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Buddha, Konghocu, Penganut Kepercayaan, LGBT, Transgender atau disabilitas sekalipun. Terpenting, kami semua adalah bersaudara.

    Menyuarakan toleransi dan keadilan. Senantiasa mengawal isu keberagaman hingga kekerasan seksual.

    Layaknya “Rumah” bagi keberagaman, menjadi keluarga yang berada dalam satu atap, toleransi.

    Kami akan menggait anak-anak muda melalui diskusi-diskusi ringan tentang isu keagamaan maupun gender. Forum Bedah Buku menjadi kegiatan yang kami lakoni secara rutin setiap bulannya. Perayaan setiap agama juga kami rayakan bersama-sama

    Anak-anak muda yang (katanya) bisa membawa perubahan lebih baik ke depannya menjadi harapan besar kami. Seperti kata Bung Karno, “Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia”.

Salam Damai Kami,

Roemah Bhinneka Moeda.

 

Comments